jump to navigation

Televisi sebagai media pelestari seni pertunjukan tradisional Juni 15, 2009

Posted by herusk in tugas- tugas.
trackback

Dengan perkembangan dan pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat menjadi tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Hal ini sangat disayangkan mengingat seni pertunjukan semisal wayang kulit merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, dan akibat globalisasi banyak seni pertunjukan tradisional sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi.

Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi.
Di sisi lain, masih ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja seni pertunjukan tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat.
Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Selain ketoprak masih ada kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi mutakhir  yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Di sinilah Televisi sebagai media publik yang berbetuk audio visual mempunyai daya tarik yang lebih kuat di bandingkan radio atau media yang lain karena televisi mempunya kelebihan di tampilan gambar dengan gambar hidup yang mampu menimbulkan kesan yang lebih mendalam pada pemirsanya.
kelebihan lainya dari televisi yaitu mampu
menayangkan secara langsung dan hidup membuat kekuatan pesawat televisi tak tertandingi
oleh media apapun.
Acara dalam televisipun lebih menarik pemirsa sebab mudah dinikmati oleh pemirsanya dalam keaadan santai. Acara-cara di televisi juga beraneka ragam baik seputar berita, musik maupun bentuk hiburan berupa film maupun sajian pertunjukan seni tradisional lainnya.
Beruntung dengan hadirnya televisi-televisi lokal, yang menyajikan porsi acara daerah lebih banyak dibanding televisi nasional. Sehingga resiko kian tergerusnya seni tradisi oleh modernisasi bisa sedikit ditahan.
Seni tradisional sebagai salah satu hiburan yang diangkat melalui media televisi tidah semudah seperti kelihatanya karena Ketika pertama kali seni pertunjukan tradisional dalam hal ini saya memakai seni pertunjukan dalam hal ini saya memakai contoh seni pertunjukan ketoprak dihadapkan pada dimensi media Televisi atau audio visual elektronik, agaknya gagap juga, hal ini dikarenakan kaidah-kaidah teknis pementasan di televisi yang audio visual itu benar-benar mengagetkan dan pada mulanya cenderung diangap sebagai penghambat. Namun dikemudian hari, kaidah-kaidah,teknis pertelevisian dalam banyak hal justru member dampak positif bagi pertumbuhan dan perkembangan kesenian tradisional seni pertunjukan.Karena persyaratan untuk pementasan televisi menuntut suatu penyiapan pementasan yang benar-benar diperhitungkan secar menyeluruh. Mau tidak mau Grup-grup seni pertunjukan tradisional yang ingin tampil di televisi pun harus harus berbenah diri dan siap dengan berbagai persyaratan yang diminta sehubungan berbagai misi yang diemban oleh televisi serta karakter dasar media audio visual elektronis itu. Dimensi-dimensi penggarapan yang ditawarkan televisi teryata memberi inspirasi bagi insan pertunjukan seni tradisional untuk tampil lebih siap, efektif, dan berkualitas.Kini banyak grup seni pertunjuka tradisional yang tampil menggunakan naskah,latihan intensif, serta menggali berbagai sudut pandang penggarapan. Sesuatu hal yang hendak ditawarkan televisi kini telah berkembang dalam masyarakat seni pertunjuka tradisional, walau seni pertunjukan ini tidak dipentaskan dilayar kaca. Dalam banyak hal, cara penggarapan seni pertunjukan tradisional semisal ketoprak televisi ini membawa banyak kemajuan kesenian ketoprak sekaligus membina spirit insan seni pertunjuka tradisional untuk tmpil lewat karya-karya uang prima. Cara garap seni pertunjukan tradisional melalui media televisi menjadi salah satu tiang penyangga keberhasilan seni pertunjukan tradisional menjawab tantangan zaman.
Sebagai contoh Salah satu televisi lokal TVRI Yogya dan TVRI Surabaya pernah menayangkan ketoprak sayembara, tak kurang 2 juta kartu pos jawaban masuk ke meja panitia, Beberapa acara kesenian Tradisional pernah
menjadi acara favorit dibeberapa stasiun televisi
swasta (Favorit tentunya berdasarkan rating, menurut
data Survey Research Indonesia, salah satu lembaga
pemeringkat acara televisi, akhir Juni 2000, rating

(peringkat) Ketoprak Canda 5. Artinya, acara itu
ditonton oleh 5% dari sejumlah pemirsa di beberapa
kota yang disurvai. Sementara Ketoprak Humor
mengumpulkan rating 9 yang sebelumnya bertengger
pada rating 13). Bahkan Ketoprak Humor yang
pernah ditayangkan RCTI tiap Sabtu malam adalah
acara favorit. Panasonic Awards 2000.
ini merupakan contoh peran televisi dalam rangka melestarikan seni pertunjukan tradisional. Bahkan sampai sekarang acara seni pertunjukan tradisional masih dilakukan oleh Televisi sumbangan yang dilakukan tidak hanya terhadap perkembangan dan pertumbuhan seni pertunjukan tradisional saja dalam keberhasilanya secara rutin dan terarah menayangkan acara ini, lebih dari itu, yang lebih penting lagi adalah kemampunya mendorong dunia kesenian tradisional atau seni pertunjukan tradisional ini menjadi lebih bisa menjawab tantangan zaman.Kekurang mampuan seni pertunjukan tradisional dalam
menyesuaikan perubahan zaman dianggap sebagai
salah satu faktor menurunnya minat publik pada seni
pertunjukan rakyat tersebut. Kesenian tradisional
pernah sangat merakyat ketika ungkapan dan ekspresi
pentasnya sesuai dinamika penontonnya.

Bertambahnya stasiun televisi, baik yang
nasional maupun stasiun televisi lokal setidaknya
mampu menumbuh kembangkan pluralisme budaya.
Pluralisme budaya terkait peran media sebagai
arena ekspresi budaya yang hidup dan berkembang di
masyarakat yang beragam pula. Dalam konteks itu,
stasiun televisi yang baik adalah yang bersedia
menjadi ajang ekspresi budaya yang bukan saja dari
budaya dominan, misalnya budaya Jawa saja, meski
pemiliknya berlatar belakang etnis tertentu. Atau
bukan sekadar ajang representasi budaya dalam
kategori high culture, tetapi juga folk culture. (Doyle,
2003: 29)

Jadi diperlukanya kepedulian bersama antara televisi dan pelaku seni pertunjukan tradisional dalam rangka upaya pelestarian seni pertunjukan tradisional.hal ini dikarenakan Pelestarian kesenian tradisional dewasa ini
termasuk penting karena sangat di sayangkan kalau
warisan budaya nenek moyang yang sudah berabad-
abad umurnya ini akan hilang dan tidak lagi dipahami oleh generasi
muda Indonesia saat ini.

Semoga upaya pelestarian seni tradisional memanfaatkan media televisi akan terus berlanjut

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: